Apa Sejatine Urip Ing Dalem Panguripan
Dalam diri
manusia pasti timbul tiga masalah besar yang harus dijawab dan diselesaikan.
Permasalahan yang timbul yaitu:
1.
Bagaimana kita ada?
2.
Untuk apa kita ada? Apa tujuan kita ada?
3.
Kemana kita akan kembali?
Untuk menjawab
pertanyaan pertama, muncul berbagai teori yang muncul. Diantaranya:
1.
Teori Abiogenesis
2.
Teori Biogenesis
3.
Teori Agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha)
Pertanyaan
ke-2 memunculkan teori:
1.
Teori Western, yaitu bersenang-senang.
2.
Teori Kebutuhan, yaitu secara naluri manusia hudup untuk
mencari kebahagiaan dan memenuhi kebutuhannya.
3.
Islam menjawab bahwa manusia diciptakan Allah adalah
untuk beribadah.
Pertanyaan
ke-3 melahirkan jawaban:
1.
Teori “mati ya mati”
2.
Teori Reinkarnasi dan Teori Surga-Neraka
3.
Islam menjawab.
Sering kita
jumpai umat Islam yang begitu taqlid kepada pemimpinnya. Hal itu wajar-wajar
saja karena untuk menanamkan Doktrin teologi. Namun, dalam pendoktrinan
tersebut seringkali justru menimbulkan fanatik sempit. Padahal untuk mendalami
Islam itu sendiri ada dua aqidah (keyakinan dasar) yang mendasari berbagai
hukum dalam Islam. Karena Islam adalah agama yang logis dan berdasarkan pada
Ilmu Pengetahuan. Kedua aqidah itu adalah:
1.
Aqidah Naqli (Dalil Naqli) dan perumpamaannya, yaitu
keyakinan yang berdasarkan pada Al-Qur’an, Hadist, Ijma’, dan Qias.
2.
Aqidah Aqli (Dalil Aqli) dan perumpamaannya, yaitu
keyakinan yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan ayat-ayat Allah yang
terdapat di alam semesta sekitar kita.
Pada dasarnya,
manusia bersifat hanifan, yaitu menyukai hal-hal yang baik dan indah. Oleh
karenanya, manusia secara naluri ingin dan mencari kebahagiaan. Sedangkan
bahagia itu sendiri terbagi menjadi kebahagiaan batin dan kebahagiaan jasmani. Lebih
jelasnya, manusia akan merasa bahagia jika kebutuhannya terpenuhi. Untuk
memenuhi kebutuhan jasmani, manusia bekerja untuk mencari makan, minum,
sandang, pangan, papan, dan hal-hal yang bersifat sekunder lainnya. Secara
rohani, manusia membutuhkan ketenangan yang bisa dia dapatkan melalui agama,
moral, hukum, aliran kepercayaan, dsb.
Secara naluri,
manusia akan mencari Tuhannya. Karena pada dasarnya manusia memiliki sifat
“manut”, taat atau berbakti. Hanya saja ‘ketaatannya’ tersebut relatif, kepada
siapa dia membaktikan diri? Bisa bakti kepada orang-tua, hawa nafsunya dan
keinginannya sendiri, Tuhan, hukum, atasan, peraturan, dsb. Sebelum mengenal
agama pun manusia sudah mencari Tuhan (baca:Tuan)nya, dengan menyebah matahari,
laut, pohon, dewa-dewi, danyang, dsb(animisme & dinamisme). Namun
seringkali manusia lupa, sehingga tanpa disadarinya dalam memenuhi kebutuhannya
tersebut manusia merusak sifat kehanifannya dengan nafsu(baca:keinginan)nya
untuk memperoleh harta, tahta(prestise/kedudukan), wanita, dsb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar