Kamis, 27 Maret 2014

Belajar Pada GURU SEJATI



Belajar Pada GURU SEJATI

Mau tidak mau, makhluk hidup harus mempercayai pada sesuatu yang ghaib. Apabila tidak mempercayai hal yang ghaib, berarti kita sudah tidak percaya pada GUSTI ALLAH. Lho kok bisa? Jelas bisa. Alasannya, bukankah GUSTI ALLAH itu ghaib? Antara manusia dan GUSTI ALLAH terdapat ribuan hijab yang menutupi sehingga kita tidak bisa melihatNYA secara langsung.

Bahkan kita tidak bisa merabaNYA karena GUSTI ALLAH itu sifatnya tidak wujud.Kalau wujud, berarti bukanlah GUSTI ALLAH.

Itulah yang harus kita jadikan sebagai pegangan agar kita tidak terperdaya dalam memahami dan menyembah pada yang bukan GUSTI ALLAH.

Nah, seperti dijelaskan GUSTI ALLAH lewat Al'Quran, ALLAH sendiri sangat dekat. GUSTI ALLAH dalam Al'Quran menjelaskan yang kurang lebih artinya, "Kalau engkau bertanya tentang AKU, AKU ini sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat lehermu sendiri." Dari situlah kita bisa melihat bahwa GUSTI ALLAH itu dekat.

Pada tubuh seluruh manusia terdapat GUSTI ALLAH. Dimanakah posisiNYA? GUSTI ALLAH itu berada pada hati nurani yang paling dalam. Hati manusia dibagi menjadi 2 bagian yakni hati besar dan hati kecil. Perlu diketahui bahwa hati besar selalu berkata bohong, menghasut, iri, dengki dan lainnya. Sedangkan hati kecil selalu mengatakan hal-hal yang bersifat kebaikan, sabar, lembut dll.

Pada hati kecil itulah GUSTI ALLAH bersemayam. Namun kita tidak bisa memburu keberadaan GUSTI ALLAH dikarenakan adanya ribuan hijab yang menghalangi itu sendiri. GUSTI ALLAH akan menyatu dan menguasai tubuh kita, jika GUSTI ALLAH sendiri yang berkehendak.

Dalam pikiran manusia juga dibagi menjadi 2 yaitu pikiran materiil dan spirituil. Kalau pikiran materiil yang lebih menonjol, tentu manusia itu akan memburu hal-hal yang bersifat materiil seperti kekayaan, kemakmuran, pangkat, jabatan, lawan jenis dan lainnya. Namun kalau pikiran spirituil yang menonjol, maka seorang manusia boleh dikatakan hampir mirip dengan malaikat. Oleh karena itu, antara sisi materiil dan spirituil haruslah seimbang. Di satu sisi kita wajib bekerja untuk mencari materi, di sisi lain kita juga wajib untuk manembah dan memuji kebesaran GUSTI.

Untuk mendalami sisi spirituil, GUSTI ALLAH menciptakan piranti yang disebut dengan GURU SEJATI. Sebetulnya antara GUSTI ALLAH dan GURU SEJATI itu pada prinsipnya sama. Jika seseorang mulai memiliki keinginan dan kerinduan terhadap TUHAN, maka GURU SEJATI itulah yang akan memandu untuk lebih bisa mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.

Bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa GURU SEJATI yang ada pada manusia itu adalah NUR MUHAMMAD. Pendapat itupun ada benarnya. Pasalnya, manusia yang hidup di dunia ini selalu memiliki NUR MUHAMMAD. NUR MUHAMMAD itulah yang menjadi penghubung antara seorang manusia dengan GUSTI ALLAH.

Nah, biasanya GURU SEJATI itu senantiasa mengajarkan lewat kata hati kita. Ia senantiasa menggerakkan rasa dan hati kita untuk selalu mendekat kepada GUSTI. Bahkan tidak jarang GURU SEJATI juga mengajarkan apa yang harus dilakukan dalam sebuah ritual. GURU SEJATI bersemayam dalam rasa.

Contohnya, pernahkah Anda merasa kesepian walaupun berada di tengah keramaian? Nah, kalau Anda sedang dalam posisi seperti itu, cobalah untuk mendengarkan hati kecil Anda dan mengikuti rasa yang muncul. Sebab kata hati kecil dan rasa itu adalah GURU SEJATI Anda sendiri. Setiap manusia memiliki GURU SEJATI. Tergantung manusia itu sendiri apakah GURU SEJATI tersebut lebih banyak didengarkan ataupun lebih memilih untuk mendengarkan hati besar yang dipenuhi oleh setan.

Untuk itu, kenalilah GURU SEJATI Anda. Dengan mengenali GURU SEJATI Anda, maka Anda akan bisa selalu 'bermesraan' dengan GUSTI ALLAH. Paling tidak, rasa yang akan muncul adalah kedamaian dan ketentraman yang ada dalam diri Anda, meskipun Anda tidak memiliki uang. Penasaran? Coba Anda praktekkan sendiri.

Jumat, 21 Maret 2014

SEJATINE URIP

Apa Sejatine Urip Ing Dalem Panguripan

Dalam diri manusia pasti timbul tiga masalah besar yang harus dijawab dan diselesaikan. Permasalahan yang timbul yaitu:
1.   Bagaimana kita ada?
2.   Untuk apa kita ada? Apa tujuan kita ada?
3.   Kemana kita akan kembali?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, muncul berbagai teori yang muncul. Diantaranya:
1.   Teori Abiogenesis
2.   Teori Biogenesis
3.   Teori Agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha)
Pertanyaan ke-2 memunculkan teori:
1.   Teori Western, yaitu bersenang-senang.
2.   Teori Kebutuhan, yaitu secara naluri manusia hudup untuk mencari kebahagiaan dan memenuhi kebutuhannya.
3.   Islam menjawab bahwa manusia diciptakan Allah adalah untuk beribadah.
Pertanyaan ke-3 melahirkan jawaban:
1.   Teori “mati ya mati”
2.   Teori Reinkarnasi dan Teori Surga-Neraka
3.   Islam menjawab.

Sering kita jumpai umat Islam yang begitu taqlid kepada pemimpinnya. Hal itu wajar-wajar saja karena untuk menanamkan Doktrin teologi. Namun, dalam pendoktrinan tersebut seringkali justru menimbulkan fanatik sempit. Padahal untuk mendalami Islam itu sendiri ada dua aqidah (keyakinan dasar) yang mendasari berbagai hukum dalam Islam. Karena Islam adalah agama yang logis dan berdasarkan pada Ilmu Pengetahuan. Kedua aqidah itu adalah:
1.   Aqidah Naqli (Dalil Naqli) dan perumpamaannya, yaitu keyakinan yang berdasarkan pada Al-Qur’an, Hadist, Ijma’, dan Qias.
2.   Aqidah Aqli (Dalil Aqli) dan perumpamaannya, yaitu keyakinan yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan ayat-ayat Allah yang terdapat di alam semesta sekitar kita.

Pada dasarnya, manusia bersifat hanifan, yaitu menyukai hal-hal yang baik dan indah. Oleh karenanya, manusia secara naluri ingin dan mencari kebahagiaan. Sedangkan bahagia itu sendiri terbagi menjadi kebahagiaan batin dan kebahagiaan jasmani. Lebih jelasnya, manusia akan merasa bahagia jika kebutuhannya terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan jasmani, manusia bekerja untuk mencari makan, minum, sandang, pangan, papan, dan hal-hal yang bersifat sekunder lainnya. Secara rohani, manusia membutuhkan ketenangan yang bisa dia dapatkan melalui agama, moral, hukum, aliran kepercayaan, dsb.
Secara naluri, manusia akan mencari Tuhannya. Karena pada dasarnya manusia memiliki sifat “manut”, taat atau berbakti. Hanya saja ‘ketaatannya’ tersebut relatif, kepada siapa dia membaktikan diri? Bisa bakti kepada orang-tua, hawa nafsunya dan keinginannya sendiri, Tuhan, hukum, atasan, peraturan, dsb. Sebelum mengenal agama pun manusia sudah mencari Tuhan (baca:Tuan)nya, dengan menyebah matahari, laut, pohon, dewa-dewi, danyang, dsb(animisme & dinamisme). Namun seringkali manusia lupa, sehingga tanpa disadarinya dalam memenuhi kebutuhannya tersebut manusia merusak sifat kehanifannya dengan nafsu(baca:keinginan)nya untuk memperoleh harta, tahta(prestise/kedudukan), wanita, dsb.